Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan

30 Desember 2008

Tiga Hari Untuk Selamanya

Kalau boleh disebut menakjubkan, mungkin hal itu bisa mewakili perasaan ketika mengikuti trip ke Taman Nasional Ujung Kulon ( TNUK ). Berpetualang bersama “wanita-wanita super”, dengan pengalaman masing-masing. Masih ada dalam pikiranku pertanyaan-pertanyaan mengapa sampai bisa aku memutuskan untuk ikut secara belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Itulah dengan pertimbangan matang,akhirnya aku putuskan untuk ikut setelah diberi tawaran ikut trip itu oleh Danang.
Dan, terjadilah sebuah perjalanan mengasyikkan dengan rombongan cewek-cwek tersebut. Sesosok makhluk yang bagi ( kebanyakan ) pria dianggap lemah,lembut, dan gemulai. Yang pekerjaannya tidak jauh dari sumur, dapur, dan kasur.

Biasanya kalau pergi ke suatu tempat,”populasi’ cewek yang ikut dalam tim sangat-sangat sedikit,malah seringnya tidak ada sama sekali. Namun untuk yang satu ini bertolak belakang dari biasanya, berbeda 180 derajat. Justeru kaum hawanya sangat mendominasi dengan komposisi 12 cewek dan 4 cowok, sehingga total rombongan kita ada 16 orang. Sungguh ternyata menjadi minoritas itu tidak enak ditambah aku belum kenal dan juga belum pernah bertemu walau sekali saja. Temu kenal sesaat hanya dilakukan di terminal Kalideres sebelum naik bis ke TNUK.

Harus aku akui, ini adalah salah satu pengalaman yang hebat yang pernah kualami. Bertemu dengan cewek-cewek yang hobi jalan dengan jam terbang yang tinggi membuat aku termotivasi juga. Mimpi-mimpi itu semakin memenuhi kepalaku. Mimpi untuk menjelajah lebih jauh lagi, mimpi untuk menikmati keindahan alam Indonesia yang telah Tuhan anugerahkan, mimpi untuk melihat dunia dari berbagai sisi.

Tiga hari itu akan menjadi prolog sebuah perjalanan panjang. Tak akan pernah ada kata berhenti untuk mencintai alam dengan berbagai macam isinya. Terima kasih kepada para sista atas perjalanannya : Wiwied,Syifa ( neng cipa ), JJ, Fita, Dian Olly, Dian Indosat,Dida, Rina, Anne, Mona,Wati dan Dini. Juga kepada teman anggota TAC ( Tax Adventurer Community ) :Danang, Aditya TK, dan Ashari( We are a great team, Man !)

Tiga hari bersama kalian akan menjadi kenangan untuk selamanya dalam hidup ini. Masih banyak tempat yang menunggu untuk kita singgahi. Masih banyak gunung yang harus didaki, laut yang harus di seberangi, sungai yang harus disusuri, hutan yang harus kita rambahi. Semoga kita dapat melakukan perjalanan kembali bersama-sama di kesempatan yang akan datang, dengan tujuan yang berbeda.

Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”
(Pram)


Selengkapnya......

01 Desember 2008

Sunset Policy di Puncak Gunung

Tiada hari tanpa sosialisasi, begitulah salah satu slogan DJP dalam rangka menyebarluaskan semua kebijakan perpajakannya kepada masyarakat. Termasuk juga kebijakan yang merupakan amanat dari Undang – Undang KUP ( UU no 28 tahun 2007 ), yaitu Sunset Policy. Sunset policy adalah kebijakan pemberian fasilitas perpajakan yang berlaku hanya di tahun 2008 dalam bentuk penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang diatur dalam pasal 37 A Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ( UU no 28 tahun 2007 ). Undang – undang KUP tahun 2007 memberikan kewenangan kepada DJP untuk menghimpun data perpajakan dan mewajibkan instansi pemerintah,lembaga, asosiasi dan pihak lainnya untuk memberikan data kepada DJP. Ketentuan ini memungkinkan DJP mengetahui ketidakbenaran pemenuhan kewajiban perpajakan yang telah dilaksanakan masyarakat. Untuk menghindarkan masyarakat dari pengenaan sanksi yang timbul apabila masyarakat tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan benar, DJP di tahun 2008 ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masayarakat untuk mulai memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela dan melaksanakannya dengan benar.

Mengingat kesempatan ini hanya berlaku selama tahun 2008 ini saja, maka DJP sangat gencar melakukan melakukan sosialisasi kebijakan ini ke semua lapisan masyarakat dengan harapan dapat meningkatkan kepatuhan dan kesadaran wajib pajak terhadap ketentuan perpajakan serta menjaring wajib pajak baru.

Hal itulah yang seharusnya juga dilakukan oleh pegawai dan keluarga besar Direktorat Jenderal Pajak. Jangan cuma menganggap hal tersebut adalah tugas bagian penyuluhan saja melainkan menjadi tanggung jawab bersama demi memujudkan masyarakat sadar dan peduli pajak. Kalau sebagai aparat pajak saja kita tidak peduli dengan hal itu, apa kata dunia ?

Semangat itulah yang melandasi kami ketika melakukan kegiatan pendakian ke Gunung Gede, Cibodas, Jawa Barat. Semangat spontanitas ( kalau boleh disebut seperti itu ) karena memang tidak pernah masuk dalam rencana sebelumnya. Niat awal kami hanya ingin sekedar refreshing, ingin menikmati keindahan alam dan melepas kepenatan setelah melakukan rutinitas harian. Sehingga muncul ide itu, sunset policy di puncak gunung. Tapi memakai apa ? kami tidak punya atribut pajak selain name tag yang kami pakai setiap hari. Ada niat ingin menghubungi bagian penyuluhan untuk “meminjam “ atribut,tapi waktunya sangat mepet. Sampai akhirnya ingat kalau kami pernah menerima pembagian stiker sunset policy untuk ditempel di kendaraan pribadi pegawai. Itulah yang kami bawa ke puncak gunung gede.

Sekedar usul saja kepada DJP agar juga melakukan sosialisasi perpajakan ke dalam komunitas pendaki gunung. Alasannya sederhana saja. Mayoritas pendaki gunung adalah kumpulan orang-orang dengan semangat nasionalisme tinggi. Anggota-anggota Mapala Universitas Indonesia,kelompok pecinta alam tertua di Indonesia (bersama Wanadri dari Bandung ),salah satu contohnya. Dalam halaman awal buku pegangan petualangan yang dimiliki seluruh anggotanya tertulis, "Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah kami naik gunung".

Membayar pajak adalah salah satu wujud nasionalisme kepada negara. Jika nilai-nilai ini ditanamkan kepada orang-orang yang punya semangat nasionalisme dan cinta tanah air yang tinggi maka hasil yang dicapai juga akan maksimal. Rata-rata di tiap kampus di Indonesia punya organisasi pecinta alam. disamping itu, ada juga kelompok masyarakat,pekerja dll juga membentuk komunitas yang sama. Seperti kemarin ketika kami mendaki gunung gede bertemu dengan teman-teman dari Toyota Indonesia Adventurer Club, Cikarang Motor Club, serta komunitas pecinta alam dari salah satu parpol. Potensi sebagai agen penerus pengetahuan perpajakan ada dalam diri mereka bila DJP mau menggarapnya. Agen yang akan meneruskan semangat nasionalisme kepada orang-orang di sekitarnya.

Banyak jalan menuju Roma. Ada banyak cara untuk mewujudkan masyarakat sadar dan peduli pajak. Dan kita sebagai pegawai DJP, adalah wajib hukumnya membawa nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi dengan orang-orang terdekat dengan kita. Dan jangan lupa,jika ada teman-teman yang berkunjung ke Cibodas apakah mau mendaki gunung atau hanya ingin ke kebun rayanya, mampir saja ke Warung Ibu Asih, anda akan menemukan stiker sunset policy yang telah dibawa ke puncak gede sebelumnya tertempel di display kacanya ( kalau tidak ada berarti sudah dilepas sama yang punya he..he..he).

Lunasi Pajaknya, Awasi Penggunaannya.

Selengkapnya......

25 Agustus 2008

Mimpi Basah

Pagi ini masih sama seperti pagi kemarin. Tetap,dingin yang menusuk tulang. Sebenarnya sangat malas untuk bangun tidur. Berhubung ada panggilan alam,rasa malas itu pun terkikis dengan sendirinya. Kuputuskan untuk menuju sungai dengan mengajak Cupez. Kutengok jam,jarumnya tepat menunjukkan angka 5.30. Sayangnya, di kali sudah ada beberapa orang yang nongkrong,ada juga yang mandi. Terbersit rasa malu ,tapi kebelet yang sangat telah mengalahkannya. Begitu ada satu orang meninggalkan posisi nongkrong yang cukup strategis,segera tempat itu saya ambil alih dan datanglah perasaan lega.Ajipppp…………

Tak lama kemudian anak-anak muncul. Ada yang mencuci mukanya sendiri ( ya iyalah,masak muka kucing ),gosok gigi,pipis. Namun ada satu pemandangan menarik. Si Vico kelihatan sangat gelisah,seakan-akan bulan depan tidak terima gaji. Soalnya yang lain sibuk ,dia tetep berdiri saja,tengok kanan,tengok kiri. Ada Apa dengan Vico ?

Ternyata ia lagi pengen mandi,jadi malu-malu gitu dech. Hebat juga anak ini,dingin-dingin berani mandi. Kenapa juga ga nunggu agak siang sedikit. Kalo saya pribadi dan teman-teman yang lain sudah sepakat,tidak akan mandi. Langsung pikiran saya mencoba menerka-nerka,pasti Vico tidak sedang mandi biasa. Ada something yang wrong pada dirinya. Dan ternyata perkiraan saya itu benar. Si Vico nanti akhirnya mengaku juga.

Selesai melakukan ritual pagi di kali, kami kembali ke rumah. O,ya , ini adalah hari terakhir kami di baduy. Menurut rencana yang ada,kami akan kembali ke jakarta selesai sarapan. Dua malam yang sangat berkesan ,penuh kenangan akan segera berakhir. Yach,itulah perjalanan ada awal ada akhir,tak ada yang abadi. Setiap pangkal pasti ada ujungnya. Selalu ada akhir dari setiap permulaan.

Kami ngobrol-ngobrol saja sembari menunggu masakan matang. Saat itulah anak-anak tanggap dengan perilaku Vico. Dan mulailah pertanyaan itu dihujamkan. Sangat tepat sasaran dan dia tidak bisa mengelak. Senyam-senyum sebelum akhirnya kata itu keluar.”Aku tadi malam mimpi basah”. Kontan saja anak-anak semua tertawa dan langsung menjadi bahan olokan. Tapi dia gak mau ngomong tentang mimpinya,rahasia katanya,off the record. Tapi ada yang nyletuk tentang apa yang menjadi mimpinya. Si Vico mimpi anunya dipegang cewek baduy dan langsung dech basah celananya ( wow,cepat sekali). Ha … ha…aya aya wae.

Setelah selesai ngobrolnya kami lalu menyantap sarapan yang sudah tersedia,tentunya dengan lauk yang tidak pernah berubah dari pertama kali datang. Berkemas-kemas,foto-foto dengan pak idik dan akhirnya pergi untuk kembali ke jakarta. Tak lupa mengucapka terima kasih kepada pak idik atas kesediaanya menampung kami selama berada di gajeboh. Sebenarnya kami juga pengen minta maaf pada bapak tua yang marah,namun tidak jadi karena masih takut (hi…hi…nanti masih ingat ga ya kalo ke baduy lagi dan ketemu )

Di tengah jalan, si Vico kembali gelisah. Pastinya bukan karena sedang mimpi basah. Dia sedang menahan,pengen beol katanya. Mencoba bertahan untuk dikeluarkan di Ciboleger bukan keputusan yang bijak. Takutnya nanti malah keluar di jalan,tambah repot. Dia lalu mencari semak belukar untuk melepaskan hajatnya. Sempat juga tak tawari apakah perlu dokumentasi untuk hal itu dan dijawab tidak( basa-basi saja kok,lagian kurang kerjaan banget motoin dia,pas beol lagi ).

Sampai di Ciboleger kami semua istirahat di rumah pa Mas'ud,sambil menikmati kopi panas dan menunggu angkutan ke rangkasbitung ada dan siap berangkat. Pak masud kemudian memberitahu angkotnya sudah ada dan siap berangkat membawa kami ke rangkaa bitung. Ah,perjalanan itu akhirnya memang benar-benar selesai. Terima kasih baduy atas sambutannya. Kami akan kembali lagi suatu saat nanti. Masih banyak tempat yang akan kami kunjungi. Selamat tinggal dan terima kasih sekali lagi.



Selengkapnya......

22 Agustus 2008

Baduy Dalam:Pak Tua yang Marah dan Tanjakan Muntah

Wrrrr...rrrrr, udara dingin membangunkan saya di pagi yang belum sempurna. Pukul 4 pagi. Suara kokok ayam terus berbunyi memberitahukan bahwa malam sudah berlalu. Awalnya saya dan teman-teman berpikir,ini alarm hp siapa ya? Ternyata baruh ngeh,itu suara ayam betulan. Rasa malas membekap tubuh yang masih ingin tetap terbaring. Tapi si Cupez mengajak ke sungai,kebetulan saya juga ingin segera mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di dalam perut. Panggilan alam telah datang. Akhirnya semua bangun dan ikut ke sungai, segera saya cari posisi strategis untuk jongkok. Untungnya masih gelap jadi tidak malu kalo dilihat orang. Setelah menemukan posisi yang tepat, akhirnya "bret........t.tttttttttttttttttt....". Alhamdulillah, lega rasanya.

Setelah beres,kami kembali ke rumah dan menunaikan sholat Subuh. Inginnya sih tidur lagi,tapi si Udin,Muktee,dan Cupezz ngajak foto-foto. Dengan kamera saku yang lampu blitznya sudah mati,saya ikut saja. Objeknya di sekitar jembatan bambu. Pret....pret... sudah mulai acara foto-fotonya sampai akhirnya ada pak tua yang menghampiriku. Kirain mau apa, ternyata eh ternyata..marah - marah!!!. Dalam bahasa sunda si bapak ini berujar,"esuk-esuk jeprat-jepret,baralik kaditu". Aku yang tidak begitu paham bahasanya cuma bisa bilang, maaf,maaf,dan maaf. Sambil menuju ke anak-anak. Kami balik ke rumah,dia nyegat di gang samping rumah sambil mengucap kata yang sama dengan mimik muka orang yang sedang marah besar. Kami cuma bisa bilang maaf,maaf,dan maaf untuk kedua kalinya. Busyet, padahal perasaan pas tidur tidak mimpi apa-apa lho.

Sampai di rumah,kami memperbincangkan masalah itu dengan teman-teman sambil mencari tahu kira-kira apa sih yang membuat pak tua itu marah. E ,,lagi ngomong,si bapak datang lagi dan sekali lagi mengucap kata yang sama.Berarti itu untuk yang ketiga kalinya. Ashari yang menguasai bahasa sunda datang dan berucap ,"punten pak,moal sekali-kali deui",sambil si bapak pergi. Mau ga mau,kami lapor ke pak Idik dan ternyata memang bapak tadi tidak suka bila orang mengambil foto di sekitar rumahnya. Lain kali kalo mau foto,waktunya jangan pagi-pagi. Uh, baru tahu kita.

Anyway, setelah sarapan pagi ( lagi-lagi dengan lauk yang sama),kami dengan pak masud sebagai penunjuk jalan berangkat menuju baduy dalam. Katanya sih sekitar 3 jam-an gitu. Ditambah medan yang tidak semakin ringan malah lebih keras lagi dan dijamin membuat lelah badan. Tanjakannya bo', membuat keringat tak henti-hentinya menetes. Si Muktee sudah mulai mengeluh,capek dan pengen balik turun. Sampai akhirnya ketika sedang beristirahat di ujung tanjakan,dia muntah!!! Gawat nih,hampir semua hasil sarapannya sukses keluar dari perutnya. Putus asa,sambil mata memandang kosong ke depan,diselingi dengan ledekan anak-anak, jadilah penderitaannya menjadi klop. Dia pengen turun!! Siapa yang mau nganter ? Cupez dengan gagah berani menawarkan dirinya untuk menemani muktee turun,balik ke gajeboh. Terjadi tarik ulur dan perang batin yang dahsat,antara balik atau terus naik. Ditambah ancaman dari si udin untuk mendelete kedua nama itu dari contact list-nya. Sampai akhirnya,kata itu terucap."Aku ikut naik",kata si Muktee. Hore...........

Ternyata setelah peristiwa muntah muktee tadi dikonfirmasi ke pak idik,memang di tempat itu sering terjadi orang atau tamu yang muntah ketika pengen ke baduy dalam. Ga ngerti apa sebabnya soalnya belum ada penelitian secara medis. Apakah pengaruh ketinggian atau faktor yang lain. Jadilah akhirnya oleh kami,nama tanjakan itu diberi nama dengan sebutan "Tanjakan Muntah".

Finally,kami semua sampai di kampung Cibeyo,satu dari tiga kampung tempat orang baduy dalam tinggal. Di sini kami melihat ada perbedaan yang cukup menonjol antara badui dalam dan badui luar. Dari cara berpakaian sudah terlihat perbedaan. Orang baduy luar umumnya sudah memakai bawahan model celana pendek,kadang pakai kaos oblong atau baju. Tapi orang baduy dalam selalu memakai ikat kepala warna putih,bawahan hanya kain yang dililitkan seperti sarung sebatas lutut yang disebut samping. Atasannya adalah pakaian yang warnanya polos hitam atau putih bagi laki-laki,dan putih bagi yang perempuan. Sedangkan bentuk rumah,kalau di badui luar ada semacam teras,memakai paku. Di badui dalam,rumahnya tidak ada terasnya hanya.Kemudian tidak ada paku sebagai penguat diantara pilar-pilarnya,hanya memakai pasak atau diikat dengan rotan. Sayang sekali,di sini tidak diperbolehkan mengambil gambar. Beda dengan orang baduy luar yang masih mengizinkan untuk mengambil gambar ( kecuali si bapak tua yang marah itu ).Orang baduy dalam juga terkenal sebagai pejalan kaki yang tangguh. Kalau mereka bepergian selalu berjalan kaki karen tidak diperbolehkan naik kendaraan. Mereka kalo ke Jakarta memakan waktu 2 hari perjalanan. Pernah juga ada yang sampai Bandung dengan waktu tempuh 5 hari. Lain dengan baduy luar,mereka boleh naik kendaraan kalo mau bepergian.( Kalo saya mending naik pesawat dari pada jalan kaki )
Di badui dalam,kami bertemu dengan pak Nalim. Tak lupa kami mencari pernak-pernik dan aksesori buatan badui,seperti gelang,cincin,gantungan kunci dll. Pak nalim lalu menawarkan kepada kami untuk istirahat di rumahnya sambil dia membuat gelang yang langsung dipasang di tangan. Ternyata tidak ada kamar untuk tidur,seperti rumah pak idik. Yang ada hanya satu ruangan itupun untuk dapur dan ruang untuk tidur.Kalo misalnya kita nginap di situ,pastinya kita tidurnya satu ruang sama tuan rumahnya. Sambil menikmati manisnya gula aren,saya melihat kelihaian tangan pak nalim membuat gelang di tangan ari.Sayang pak nalim harus segera ronda jadi saya tidak ikut dibuatkan gelang. Yah...

Setelah cukup dan takut kehujanan di jalan,kami lalu kembali ke gajeboh. Puas karena rasa ingin tahu tentang badui dalam sudah terpenuhi.Kami mampir di Cipelar dan singgah di warung. Karena sangat haus,minuman sejenis rootbeer sebanyak setengah dus habis kali lahap. Sebagai pengganjal lapar,kami makan indomei kering. Nikmatnya. Selesai beristirahat kami meneruskan perjalanan. Tak terasa kami sudah sampai lagi ke gajeboh.Karena pak idik tidak ada,kami lalu menuju ke warung,cari makan dan minum. Ajip..............

Malamnya kami ngobrol banyak hal dengan pak idik tentang baduy dan hal-hal yang melingkupinya.Tak lupa juga curhat tentang sandal yang hilang pas malam pertama. Sambil klekaran,melawan kantuk yang mulai melancarkan serangan sporadisnya,mendengarkan uraian dari pak idik. Bak seorang dosen memberi mata kuliah kepada para mahasiswanya. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk segera menyambut panggilan dewi malam yang sudah bersiap memeluk tubuh lelah kami dengan mimpinya. Dan mimpi itu benar-benar ada.


Selengkapnya......

Gajeboh: Kampung yang Strategis

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 2,5 jam,kereta berhenti di tujuan akhirnya yaitu stasiun Rangkasbitung. Lega rasanya ketika tahu bahwa kami sudah sampai. Masih ada rasa penat yang tersisa. Sesuai rencana awal, kami akan terlebih dahulu belanja membeli keperluan selama menginap di Baduy. Kebetulan pasarnya terletak tepat ketika kita keluar dari stasiun. Ashari,Udin dan saya masuk ke dalam pasar dan mulai searching beras. Setelah puter-puter ( masuk di blok pasar ikan ) kami menemukan pedagang beras yang dicari. Tersedia 4 macam beras dan semuanya ditawarkan. Lalu dengan pedenya kami memilih beras yang paling mahal, 3800 rupiah per liternya ( yang paling murah 3500),dengan prinsip ono rego ono rupo (intinya, harga sesuai kualitas,sebanyak 10 liter. Selain beras, yang kami beli adalah rokok cap Gentong ( paling enak di banten katanya ),kopi instan,mie rebus,gelas,piring dan saos. Serta tidak lupa lauk yang paling enak dan sedap se dunia, yaitu ikan asin. Tidak tanggung-tanggung belinya sodara,kami belinya 1 kilogram. Ada kejadian lucu saat kita beli beras. Terjadi dialog antara si Udin ( U ) dan si Penjual Beras ( PB ),begini kira-kira :

U :"Mas, di sini ada ATM di mana ya "?
PB:"ATM ???? ( dengan mimik bingung karena tidak tahu )
U :"ATM mas, tempat ambil uang "
PB:"Oh, kalo ambil uang di Bank,mas "( Gubrakkkkk..................)
U :"Ooooo...di bank ya..."!!!
Sebuah gap pengetahuan yang layak kita prihatinkan, Bank Indonesia harus sering-sering buat iklan tentang ATM nih. Sudahlah,.... !!
Setelah beres belanja,kita jalan ke tempat angkot untuk menuju ke terminal Aweh. Si Udin akhirnya menemukan apa yang tadi ditanyakan pada si penjual beras, ATM. Ketemu angkotnya, kami akhirnya berangkat ke Aweh dengan mengeluarkan 3000 perak per kepala, mencari angkutan yang akan membawa kami menuju Baduy

Sampai di Aweh, sudah ada angkot ( ELF )yang ngetem. Karena berangkat baru pukul 2 siang kami lalu menuju ke mushola untuk sholat. Setelah sholat dan ngobrol-ngobrol agak penting,kami lalu makan siang. Tapi belum selesai saya makan,ELF nyamperin ngajak berangkat ke Ciboleger. Ya...kurang dikit lagi padahal. Untungnya bisa dapat tempat duduk, soalnya pada kesempatan pertama dulu,saya dan Ashari sampai naik ke atas ELF karena di dalam sudah penuh dengan penumpang. Agak ngeri juga duduk di atas ELF dengan medan jalan berkelak-kelok,naik turun,ditambah hujan. Jadi dulu berangkat, bajunya kering, tengah jalan basah karena hujan, dan kering lagi ketika sampai di Ciboleger. Tapi , itu adalah salah satu pengalaman yang mengesankan. Perjalanan dari Aweh ke Ciboleger dikenai tarif 12.000 rupiah per kepala.


Kira-kira 1,5 jam perjalanan, kami semua sampai di Ciboleger. Ciboleger adalah gerbang utama masuk ke desa adat Baduy yang legal. Sebetulnya selain dari Ciboleger, ada pintu masuk yang lain namun ilegal karena tidak lapor ke Jaro( kepala desanya Baduy ), yaitu lewat Bojong Manik. Langsung masuk ke Baduy dalam, kampung Cikesik ( baduy dalam hanya ada 3, lainnya adalah Cibeyo dan Cikertawarna ). Kami sudah punya rencana akan menyambangi Cikesik lewat Bojong Manik, menunggu saat yang tepat saja.

Setelah duduk sejenak dan ngobrol dengan pak polisi yang sedang mempersiapkan upacara 17 an,kami menemui Pak Masud ( sebelumnya lupa namanya ). Beliau ini dulu yang memandu waktu saya pertama kali datang ke sini. Kebetulan si bapak lagi kongkow di warung, sekalian saja kita beli air mineral untuk stok. Lalu kami transit dulu di rumah P Masud sambil ngopi dan memulihkan tenaga sebelum melakukan perjalanan memasuki kawasan adat desa Baduy. Setelah semua siap, kami semua berangkat menuju kampung baduy. Sebelumnya kami (dan semua orang yang ingin bertamu ) menemui Jaro. Jaro adalah pemimpin semua kampung Baduy secara administratif, bukan pemimpin adat. Sedangkan pemimpin adatnya disebut Pu'un ( nulisnya ga ngerti). Kami menulis di buku tamu, akan menginap di mana,tujuan bertamu, dan berapa hari akan tinggal. Tak lupa disisipkan uang seikhlasnya( tidak ada tarif resminya). Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan melintasi tanjakan,turunan,menuju kampung Gajeboh. Jalannya lumayan menyita tenaga karena daerahnya adalah tipikal pegunungan. Namun karena semangat yang tinggi rasa lelah tidak kami pedulikan. Rasa lelah seolah hilang ketika menyaksikan anak-anak baduy yang walaupun masih kecil namun kuat sambil jalan dan membawa barang-barang yang akan dijual di warung milik orang tua mereka atau warung yang telah menyuruh mereka untuk membawakan barang-barang mereka. Rasa malu itu tetap ada.

Setelah berjalan sekitar 1,5 jam, akhirnya kami sampai di kampung Gajeboh. Gajeboh adalah salah satu kampung dari 70 kampung Baduy luar. Total kampungnya sendiri ada 73 kampung termasuk 3 kampung baduy dalam yang disebut di atas tadi. Letakknya sangat strategis karena dekat dengan sungai,sehingga mau mandi,ambil wudhu,atau buang air sangat mudah. Kami menuju ke rumah pak Idik. Rumah ini juga yang dulu saya tempati selama 1 malam. Pak Idik sendiri adalah RT di kampung tersebut. Syukurlah, waktu itu beliau tidak sedang menerima tamu sehingga kami dapat tinggal di rumah tersebut. Dengan keramahan Baduy beliau menyambut kami dan masih ingat kalo saya dan Ari pernah ke situ. Lalu barang - barang yang kami beli diserahkan kepada tuan rumah untuk diolah. Kami beritahukan bahwa kami akan makan di situ sebanyak 4 kali makan.

Hari semakin gelap,tanda malam akan datang mengganti siang. Kami pergi ke sungai untuk sekedar membersihkan badan tapi bukan mandi. Belum berani untuk mandi karena dingin. Cuma cuci muka dan gosok gigi. Perlu diketahui bahwa di kampung Baduy tidak ada fasilitas listrik dan sinyal HP. Praktis penerangan hanya mengandalkan lampu teplok dan lilin. Bukan berarti pemerintah tidak peduli,tapi memang begitulah kemauan orang Baduy. Mereka sendiri yang tidak mau menerima aliran listrik. Kehidupan mereka tergantung dari pertanian dan menjual kerajinan tangan mereka kepada para tamu. Ada yang membuat tenun, gelang,gantungan tas,asbak dll. Saat kami datang para orang tua dan anak-anak sedang sibuk menyiapkan ladang untuk bertanam padi.

Setelah makan malam, dengan menu mie rebus dan ikan asing,kami ngobrol-ngobrol dengan Pak Idik. Bertanya tentang Baduy. Salah satu pertanyaan adalah mengapa dibedakan antara baduy dalam dan baduy luar. Menurut penjelasan Pak Idik,memang dari dulu sudah dibedakan seperti itu. Baduy dalam adalah intinya karena para Pu'un itu berasal dari Baduy Dalam. Pu'un lah yang memimpin upacara adat,dia juga yang menentukan kapan waktu untuk mulai berladang. Disamping itu,salah satu fungsi Baduy luar adalah sebagai tempat pengasingan bagi orang Baduy dalam apabila mereka melanggar adat. Agama orang Baduy adalah Sunda wiwitan. Mereka menyebut Tuhan mereka sebagai Pangeran.Orang baduy juga mengenal dosa,surga dan neraka. Jika mereka melanggar adat,maka berarti mereka berbuat dosa. Jika mati,kalo dosanya banyak maka akan masuk neraka,begitu juga sebaliknya.

Menarik sekali dialog yang kami lakukan. Sayang rasa kantuk yang menyerang menyudahi perbincangan malam itu. Kami semua mengambil posisi masing-masing untuk bersiap tidur. Sambil membayangkan apa yang akan kami lakukan besok pagi. Dewi malam membelai kami dalam suasana yang sangat hening,sunyi,jauh dari bising khas Jakarta. Hhhuahhhhh....angin baduy menjadi teman tidur kami...



Selengkapnya......

Baduy: Sebuah Perjalanan

Agustus ceria,ueforia kemerdekaan republik ini menggema di mana-mana. Yup, tanggal 17 bulan Agustus Indonesia merayakan 63 tahun kemerdekaannya. Saya pribadi juga sangat senang ternyata ada libur yang cukup buat jalan-jalan, kurang lebih 3 hari off dari segala rutinitas yang sangat menjemukan. Moment seperti itulah yang sangat saya inginkan, ada libur cukup dan pergi ke tempat yang bisa menenangkan hati dan pikiran. Rencana awal saya dan beberapa teman berencana naik ke gunung Salak,tapi apa lacur, karena perubahan statusnya menjadi taman nasional yang berakibat ruwetnya syarat untuk naik, kita tunda rencana tersebut. Setelah mempertimbangkan waktu,tenaga,pikiran,dan biaya, akhirnya diputuskan dalam "rapat pleno",bahwa liburan tanggal 16-18 Agustus kita akan pergi ke Baduy, di desa Kanekes,Ciboleger,Lebak,Banten.


Setelah melalui rapat-rapat melalui email, disepakati bahwa pada hari Sabtu tgl 16 Agustus 2008 kami berangkat ke tujuan. Rencana awal titik pemberangkatan adalah di Stasiun Kota. Ini setelah melihat jadwal KA di internet. Saya tiba di stasiun Kota dan ketemu rombongan Panbar(Pancoran barat), Cupezz,Muktee,Ashari dan Vico. Lalu kami dibuat terkejut karena ternyata keretanya sudah berangkat jam 7 dan ada lagi jam 11 an siang. Waduh gimana ini ?Masak bisa begitu sich ? Setelah melihat jadwal yang terpampang di samping loket, kami langsung merubah haluan,titik pemberangkatan dialihkan ke Stasiun Tanah Abang karena ada kereta yang berangkat jam 9. Setelah nelpon rombongan dari Rancho ( udin dan danang masih di dalam kereta menuju Kota) untuk memberitahukan kalo pindah ke TA,dengan naik taksi kami menuju ke TA. Sebenarnya berangkat jam 11 juga bisa, tapi tidak menjamin bisa berangkat ke Ciboleger pada hari itu juga. Mengingat angkutan ke sana sangat jarang,belum lagi nanti harus belanja keperluan kami selama menginap di Baduy yang memang direncanakan akan dibeli di pasar Rangkasbitung.

Sesampainya di sana langsung beli tiket sebanyak 7 ke Rangkasbitung, harga tiketnya sih angkanya tertera Rp.2000,tapi dihitung 2500. Never mind-lah,yang penting sampai. Sebenarnya ada kereta yang berangkat jam 8.20,tapi Udin sama Danang baru sampai di Kota. Dengan telp,kami instruksikan agar mereka berdua ke TA nya naik taksi saja, 15 rebu doank,biar bisa ngejar yang jam 9.10. Tapi apa di kata,sampai ada pengumuman bahwa kereta yang jam 9 akan berangkat,dua manusia itu belum datang juga. Shhhhh, ya sudahlah masih ada kereta lagi jam 10.10. Beberapa menit setelah kereta berlalu, barulah dua orang itu datang sambil celingak-celinguk mencari posisi kami. Oh,iya sebagai pemberi tahuan saja. Ini adalah perjalanan ke Baduy yang ke-2 bagi saya dan Ashari. Jadi bisa dikatakan deja vu sama baduy. Sebelumnya pada bulan Feruari lalu,kami berdua sudah berkunjung ke sana walaupun hanya sampai Baduy luar. Mau ke Baduy dalam tidak bisa karena disamping waktunya yang tidak mencukupi,pas itu warga baduy dalam sedang tidak dalam kondisi terbuka bagi setiap tamu karena sedang melaksanakan ritual Kawalu,yaitu melakukan ibadah puasa selama tiga bulan. Nah,dalam perjalanan kali ini kami akan mencoba masuk ke kawasan Baduy dalam. Sekedar memenuhi keinginan kami saja.

Akhirnya datang juga, kereta yang akan membawa kami menuju ke Rangkasbitung seiring dengan suara sirine dan sahutan merdu suara seorang bapak pegawai PT KAI. Dengan nada khasnya si bapak memberitahukan bahwa kereta ekonomi jurusan Jakarta - Rangkasbitung yang berhenti di setiap stasiun akan diberangkatkan dan meminta kepada semua penumpang untuk segera naik. Kami pun naik dan berjalan mencari gerbong yang bisa untuk duduk mengingat perjalanan yang agak lumayan, sekitar 2,5 jam. Dasar dunia,ada saja manusia yang berniat jahat. Di tengah desakan dan ramainya orang di dalam kereta, ada tangan jahil yang menggerayangi dompet di saku kanan jeans yang saya pakai. Kebetulan waktu itu saya naruh handphone di saku depan kiri dan dompet di saku kanan depan. Di lorong sambungan gerbong, ada orang dari samping dan dari depan yang menghalangi jalan,otomatis jalan saya ke depan agak terhambat. Reflek, kedua tangan saya memegang kedua saku celana saya melihat kondisi seperti itu. Dan benar saja,pas saya pegang ternyata ada sebuah tangan manusia jahat yang sudah merogoh dan menarik dompet kesayangan. Mana di situ ada duit iuran anak-anak,duit saya sendiri,dan yang paling penting identitas diri macam KTP,SIM C dan SIM A ( khusus SIM A , baru dibuat dan belum pernah dilihatin ke pak polisi ). Ternyata Tuhan masih melindungiku.. Pencopet itu juga beruntung,tangannya bisa lepas dari saku celana. Kalo ga, mungkin sudah bonyok dikeroyok orang satu stasiun. Ini mungkin jadi pelajaran bagi saya pribadi dan kawan yang membaca tulisan saya ini untuk selalu waspada di tempat keramaian dan tidak membawa barang terlalu mencolok dan menyilaukan mata para pencopet. Ini juga menjadi pengalaman saya yang pertama berinteraksi dengan copet dan semoga menjadi yang terakhir. Nggak lagi-lagi dech.

Setelah kejadian itu,kami menemukan tempat duduk. Berdoa semoga perjalanan yang kami lakukan lancar dan tidak ada halangan sesuatu apapun. Baduy, kami datang mengunjungimu ( lagi,bagi saya dan Ari ). Seiring dengan laju kereta kelas ekonomi menyusuri rel,dalam hati saya terucap,"Selamat tinggal Jakarta". Dua hari lagi kami akan kembali !


Selengkapnya......

12 Desember 2007

UJUNG GENTENG, Sebuah Perjalanan......( part 1 )


Puas!!!! Puas !!! Puas !!!! ( tapi bukan puas-nya tukul lho ).Ya, itulah ekspresi yang keluar ketika sudah sampai di Ujung Genteng. Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan dari Jakarta,mendaki bukit lewati lembah ( kayak ninja hatori aja ) akhirnya sampai juga ke tempat tujuan. Disambut hangatnya mentari sore,udara pantai yang khas,dan lambaian nyiur kelapa,kami ber-8 menginjakkan di bumi Ujung Genteng, di pesisir selatan kabupaten Sukabumi.

Motivasi utama datang ke Ujung genteng ( UG ) adalah untuk melepas penat,stress,dan rasa bosan akan suasana Jakarta. Ya, tahu sendirilah kondisi "kota tercinta " itu. Akhirnya,diputuskan pada Sabtu 8 Desember 2007 pergi ke UG. Dari Jakarta berangkat sekitar jam 9 pagi naik mobil,dengan formasi Widi ( driver tunggal ),Hardy ( sebelahnya driver ),suliswanto,Ashari,David Dabo,Mukti,Vico,dan saya sendiri. Perjalanannya sendiri sangat "menakjubkan",terutama setelah masuk ke daerah kabupaten sukabumi. Jalan yang berkelak-kelok,tipikal daerah perbukitan,merupakan sensasi tersendiri. Untungnya drivernya sangat handal karena membawa mobil sejak tahun 80an ( kata dia ).( tengkyu wid,kamu memang teman yang bisa diandalkan dalam urusan per-driver-an).Walaupun jalanan kecil,hanya cukup untuk dua mobil,laju mobil tetap kencang,dan sering bermanuver demi mendahului kendaraan yang ada di depannya.
Di tengah perjalanan, dan karena sudah waktunya makan siang, kami memutuskan untuk makan siang di Pelabuhan Ratu. Pelabuhan Ratu sebenarnya juga termasuk salah satu wisata andalan Sukabumi,selain sebagai pusat pemerintahan. Kami makan siang di salah satu rumah makan yang langsung menghadap ke laut lepas, sangat menakjubkan.


Setelah kenyang,kami balik arah menuju ke UG, melewati Kecamatan Simpenan. Jurang terhampar di pinggir jalan, agak deg-degan juga ketika melewati tikungan dan ketika mencoba mendahului, jalannya sempit bok.Tapi sekali lagi,drivernya bisa diandalkan.Sebenarnya kita juga melewati air terjun,dan terlihat dengan jelas berada di sisi jalan. Pengennya berhenti sejenak,minimal mengambil gambarnya. Namun karena kondisi jalan tidak memungkinkan,terpaksa kita hanya melewatinya. Ketika sudah melewati Surade, rasa tidak sabar semakin kuat. Apalagi ketika melihat papan penunjuk jalan tertulis, UJUNG GENTENG 12 KM,,. !!. Pucuk dicinta ulam tiba, ketika dari kejauhan sudah terlihat birunya air laut terhampar,perasaan makin tidak karuan pengen segera merasakan sejuknya air laut. Kami kemudian melewati pos masuk,sebenarnya harus bayar. Sempat memperlambat mobil,kemudian digas lagi. Artinya kami tidak membayar ketika masuk kawasan wisata UG.( Maafkan kami pak,kami janji lain kali kalau ke sana lagi akan membayar tiket masuk, sumpah dech )
And finally,sampailah kita di penginapan yang letaknya persis di pinggir pantai. Kami menyewa satu ruang yang terdiri dari 2 kamar,empat tempat tidur,satu kamar mandi,semacam ruang tamu,tempat masak,dan teras. Karena kami ber-8,ditambah lagi 4 ekstra bed. Harganya cukup murah,250 ribu rupiah,belum termasuk makannya. Setelah urusan sewa menyewa beres,kami langsung ganti pakaian dan menceburkan badan di pantai,kebetulan kondisinya pas pasang. Kalau biasanya ombak pantai selatan terkenal dengan kehebatannya,ombak di pantai tempat kami mandi tidak terlalu tinggi,hampir tidak ada malah. Sebab daerah tersebut banyak terumbu karang sehingga ombak yang datang sebelum sampai ke pantai sudah dipecah. Dan perlu dicatat,kondisi pantainya sangat bening. Kita bisa melihat dengan jelas pemandangan di bawah air dengan jelas. Sebetulnya lebih pas lagi kalau kita memakai alat buat snorkling,tapi karena tidak ada yang bawa ( lebih tepatnya tidak ada yang punya ) dan tidak tahu harus menyewa ke mana, kita mengandalkan mata telanjang untuk melihatnya. Kondisi pantai juga juga tidak ramai dan terkesan sangat sepi dari pengunjung. Hal ini dimungkinkan karena memang masih sangat sedikit orang yang tahu dan kurangnya promosi dari pemerintah setempat.
Setelah puas mandi,kami mandi di "hotel". Lalu saya dan empat orang lagi pergi ke pasar ikan'letaknya kira-kira lima menit jalan pake mobil dari penginapan. Kami membeli ikan bawal dan lobster untuk lauk makan malam.Harganya harga pabrik,karena langsung dari laut.Kita lalu menyerahkan ke yang punya penginapan untuk dimasak. Lumayan lama juga sih nunggunya,bawalnya dibakar dan lobsternya direbus.Dan, maknyuss,nikmatnya makan malam akhirnya bisa kami rasakan.
Di UG ada tempat penangkaran penyu juga ternyata. Setelah makan malam, saya,widi,sulis, david dabo,dan ashari dengan naik ojek pergi ke tempat penyu tadi. Katanya kita bisa melihat penyu yang sedang bertelur. Jalan ke tempat penyu sangat ekstrem,sangat licin dan gelap,penerangan mengandalkan lampu motor. Mungkin karena habis hujan,ditambah bukan jalan aspal alias masih tanah,jadinya y gitu dech. Kita sampai juga ke tempat penyu. Kami membayar 6 ribu rupiah,seandainya yang ikut lebih dari 5 orang kita cukup membayar 5 ribu. Lalu dengan didampingi seorang guide,kami menuju ke tempat penyu bertelur. Sayup-sayup terdengar deburan ombak. Sayangnya pas ke sampai,penyunya sudah selesai bertelur. Tp ga papa, kami masih sempat melihat seekor penyu sedang berusaha menutupi badannya dengan pasir pantai yang lembut.

Ternyata di sana sudah banyak orang yang punya tujuan sama seperti kami,ingin melihat penyu. Kalau mau menunggu, kata orang di penangkaran,kita bisa melihat penyu sedang naik ke pantai untuk bertelur. Tapi tidak ada kepastian berapa menit atau berapa jam. Seandainya kondisinya siang,pasti asyik melihat gempuran ombak menggelegar. Berhubung malam hari dan gelap, hanya mengandalkan cahaya Hp,hanya bisa mendengar suaranya. Lalu setelah merasa cukup dan foto-foto sebentar, kami kembali ke penginapan. Jarak tempuhnya sekitar 20 menit,dan untuk menikmati perjalanan malam tadi,kami mengeluarkan biaya 40 ribu rupiah per kepala,termasuk untuk biaya masuk.
Sampai di penginapan,ada yang main kartu ada yang tiduran. Lalu tengah malam,kami berjalan-jalan di tepi pantai,meikmati suasana pantai di malam hari. Ternyata airnya surut,dibandingkan kondisi pada sore harinya. Ada beberapa nelayan dengan menggunakan lampu petromaks dan alat penangkap ikan,mencari ikan di sela-sela karang. Ditambah cuaca waktu itu sangat cerah. Sungguh merupakan pengalaman yang berharga. Setelah cukup kami kembali dan tidur.




Selengkapnya......