Sebenarnya akar permasalahan mengapa orang nekat mencuri atau mengambil hak milik orang lain adalah faktor ekonomi. Kondisi bangsa kita yang belum bisa bangkit dari serangan krisis moneter tahun 1997 silam, membuat sulit sebagian orang untuk bertahan. Angka pengangguran tinggi, banyak orang hidup di bawah bayang-bayang kemiskinan,lapangan kerja terbatas, harga kebutuhan pokok melonjak, adalah dampak yang kelihatan. Seringkali kita melihat kondisi masyarakat bawah yang kekurangan makan karena tidak punya sumber penghasilan yang tetap. Bahkan penulis pernah menyaksikan berita di televisi ada seorang kakek yang makan arang demi mengisi perut yang kosong !!!. Dari sinilah akhirnya membuat sebagian orang berpikir pendek dan praktis untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Caranya salah satunya ya dengan mencuri tadi.
19 Februari 2008
Paradok Hukum di Negara Hukum
Sebenarnya akar permasalahan mengapa orang nekat mencuri atau mengambil hak milik orang lain adalah faktor ekonomi. Kondisi bangsa kita yang belum bisa bangkit dari serangan krisis moneter tahun 1997 silam, membuat sulit sebagian orang untuk bertahan. Angka pengangguran tinggi, banyak orang hidup di bawah bayang-bayang kemiskinan,lapangan kerja terbatas, harga kebutuhan pokok melonjak, adalah dampak yang kelihatan. Seringkali kita melihat kondisi masyarakat bawah yang kekurangan makan karena tidak punya sumber penghasilan yang tetap. Bahkan penulis pernah menyaksikan berita di televisi ada seorang kakek yang makan arang demi mengisi perut yang kosong !!!. Dari sinilah akhirnya membuat sebagian orang berpikir pendek dan praktis untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Caranya salah satunya ya dengan mencuri tadi.
Diposting oleh
masmuh
di
07.53
0
komentar
Label: renungan
13 Februari 2008
Valentine Day, Mengapa Harus Dirayakan ?
Sesungguhnya, belum ada kesepakatan final di antara para sejarawan tentang apa yang sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati sebagai hari Valentine. Dalam buku ‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005), sejarah Valentine Day dikupas secara detil. Inilah salinannya:
Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yang paling populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menelisik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu yang dipenuhi dengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala.
Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.
Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa. Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.
Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.
Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara paganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara lain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.
Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.
Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini sekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan Roma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi. Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tentangan dari Santo Valentine dan ia secara diam-diam pula menikahkan banyak pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M.
Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkannya dengan musim kawin burung-burung dalam puisinya.
Lantas, bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarang masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.
Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang lain atau pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan hal itu sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatan yang dimurkai Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi “Sang Maha Kuasa” dan hal itu sama saja dengan upaya menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada berhala.
Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan setengah telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan sehingga diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnya itu!
Silang sengketa siapa sesungguhnya Santo Valentine sendiri juga terjadi di dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut gereja Katolik seperti yang ditulis dalam The Catholic Encyclopedia (1908), nama Santo Valentinus paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yakni: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antara ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.
Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini, walau demikian Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus.
Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Jenazah itu kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.
Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi di dalam gereja. Pada hari itu, sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 dengan alasan sebagai bagian dari sebuah usaha gereja yang lebih luas untuk menghapus santo dan santa yang asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya berdasarkan mitos atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampai sekarang masih dirayakan oleh kelompok-kelompok gereja tertentu.
Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda zaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya Santo Valentine yang dianggap menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini pernah diperingati secara resmi Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompok gereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya.
Pesta Kemaksiatan
Christendom adalah sebutan lain untuk tanah-tanah atau negeri-negeri Kristen di Barat. Awalnya hanya merujuk pada daratan Kristen Eropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan sebagainya, namun dewasa ini juga merambah ke daratan Amerika.
Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika. Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnya berasal dari Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajah wilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimpor oleh daerah koloninya di Amerika Utara.
Di Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar. Mr. Howland mendapat ilham untuk memproduksi kartu di Amerika dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Upayanya ini kemudian diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya hingga kini.
Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) tiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary" kepada perusahaan pencetak kartu terbaik.
Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di Amerika, produksi kartu dibuat secara massal di selutuh dunia. The Greeting Card Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar satu milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya terbesar kedua setelah Natal dan Tahun Baru (Merry Christmast and The Happy New Year), di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama juga memperkirakan bahwa para perempuanlah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di Amerika mengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang titik sentral, sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang lebih besar. Hal ini sering dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya bisa berupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan kepada perempuan pilihan.
Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada hari Valentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yang serius. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat ‘dating’ yang sering di akhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbang pengungkapan rasa kasih sayang dari anak ke orangtua, ke guru, dan sebagainya yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilah sesungguhnya esensi dari Valentine Day.
Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya dipersepsikan sebagai hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja, sesuatu yang lumrah di negara-negara Barat, sepanjang malam itu. Malah di berbagai hotel diselenggarakan aneka lomba dan acara yang berakhir di masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlainan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi party-party yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan.
Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak di antaranya yang mendengar bahwa Valentine Day adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak terlalu dipusingkan mereka. “Ah, aku kan ngerayaain Valentine buat fun-fun aja…, ” demikian banyak remaja Islam bersikap. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?
Perayaan Hari Valentine memuat sejumlah pengakuan atas klaim dogma dan ideologi Kristiani seperti mengakui “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan lain sebagainya. Merayakan Valentine Day berarti pula secara langsung atau tidak, ikut mengakui kebenaran atas dogma dan ideologi Kristiani tersebut, apa pun alasanya.
Diposting oleh
masmuh
di
15.22
2
komentar
Label: renungan
12 Februari 2008
Lima ( 5 ) Centimeter ( Cm )
Entah bagaimana bisa, ketika minggu lalu saya jalan ke Gramedia di bilangan Matraman Raya, saya melihat buku itu lagi. Saya pikir, tidak ada salahnya kalau saya beli buku itu untuk dibaca dan itung-itung seneng bisa punya sendiri. Dan bisa ditebak, saya baca itu buku lagi. Kalau saya boleh bilang, pelajaran berharga dari kisah tersebut adalah suatu keinginan kita akan dapat kita raih selama kita punya niat yang lurus dan usaha yang tidak kenal menyerah. Hal tersebut bisa kita lihat dari kisah seorang Ian ketika ia berusaha keras demi selesainya skripsi yang telah lama ia tinggalkan. Atau yang paling heroik adalah semangat mereka mengatasi segala perasaan lelah,sakit,takut ketika menuju ke Mahameru,puncak tertinggi di pulau Jawa. Jujur saya ingin sekali ke Mahameru suatu saat nanti setelah membaca buku tersebut. Merasakan hawa Ranu Pane, menikmati dinginnya hembusan angin gunung, merasakan segarnya air danau ranu kumbolo, dan melihat awan yang seakan-akan ada di bawah kaki kita.
Luruskan niat, bersihkan hati, pupuk semangat kita demi meraih apa-apa yang kita inginkan dan mimpikan. Pandang ke depan dengan optimisme tinggi, dan taruhlah semua mimpi,cita,dan angan kita tepat 5 cm di depan kepala kita. Pegang kuat-kuat, dan jangan sampai merasa putus asa. Hadapi semua rintangan , tantangan dan penderitaan dengan senyuman penuh kemenangan. Karena menantang rintangan dan penderitaan itu lebih mulia daripada surut ke belakang menuju ketentraman. Rama-rama yang berputar putar di sekitar lampu hingga mati lebih terhormat daripada tikus yang hidup dalam terowongan gelap ( K. Gibran ).
Diposting oleh
masmuh
di
16.52
0
komentar
Label: renungan
26 Desember 2007
Idul Adha, Mengapa Beda Antara Arab Saudi Dengan Indonesia ?
Arab Saudi mengumumkan hari wukuf jatuh pada 16 April 1997. Dengan demikian Idul Adha di sana jatuh pada 17 April 1997 (Republika, 10/4). Sedangkan Departemen Agama RI, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura mengumumkan Idul Adha jatuh pada 18 April (Republika, 12/4).
Perbedaan serupa pernah terjadi tahun 1411 H/1991. Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi berbeda hari. Pada tahun 1991 wukuf di Arafah terjadi pada 21 Juni 1991 dan Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 22 Juni 1991. Sedangkan di Indonesia Idul Adha jatuh pada 23 Juni 1991.
Banyak orang bingung waktu itu. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara Asia bagian timur. Ada juga yang mengecam perbedaan itu seolah-olah tidak berdasar. Bahkan ada tokoh yang mempertanyakan perbedaan itu, mengapa Indonesia yang letaknya lebih ke timur ketimbang Arab Saudi beridul adha belakangan. Ada yang bertanya-tanya mengapa perbedaan waktu yang hanya empat jam antara Arab Saudi dan Indonesia bisa menyebabkan perbedaan hari raya.
Ada dua aspek yang terkait dengan perbedaan itu yang perlu dijelaskan: aspek astronomis penentuan awal bulan Dzulhijjah dan aspek syariah yang berkaitan dengan puasa hari Arafah. Aspek kedua yang mungkin paling merisaukan banyak orang. Bila kita di Indonesia berpuasa hari Arafah 9 Dzulhijjah pada 17 April sementara kita mendengar hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha, mungkin ada bimbang. Berpuasa pada hari raya adalah haram. Lalu haramkah berpuasa pada 17 April itu?
Sebenarnya keduanya bukan masalah bila kita mengetahui duduk soalnya.
Garis Tanggal
Terjadinya perbedaan hari Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi beralasan secara astronomis. Perhitungan astronomi menyatakan ijtimak awal Dzulhijjah 1417 terjadi pada 7 April 1997 pukul 11:04 UT atau pukul 14:04 waktu Arab Saudi, pukul 18:04 WIB. Dengan demikian di Arab Saudi ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima' qablal ghurub) sedangkan di sebagian besar Indonesia saat itu matahari sudah terbenam. Berdasarkan saat ijtimak itu saja dapat difahami bahwa masuknya awal Dzulhijjah di Arab Saudi lebih dahulu daripada di Indonesia.
Pada tanggal 7 April, di Mekkah matahari terbenam pukul 18:38 sedangkan bulan terbenam lebih lambat lagi, pukul 18:45. Walaupun secara astronomis itu masih di bawah kriteria visibilitas hilal, tetapi itu menunjukkan bahwa bulan sudah wujud di atas ufuk pada saat maghrib. Sehingga 1 Dzulhijjah di Arab Saudi jatuh pada tanggal 8 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997.
Di Indonesia pada tanggal 7 April itu bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Di Jakarta bulan terbenam pukul 17:54 dan matahari terbenam pukul 17:55. Dan di Bandung bulan terbenam pukul 17:51 dan matahari terbenam pukul 17:52. Di kawasan Indonesia tengah dan timur perbedaan waktu terbenam bulan dan matahari lebih besar lagi. Secara umum di seluruh Indonesia bulan sudah berada di bawah ufuk pada saat maghrib. Dengan demikian 1 Dzulhijjah jatuh pada 9 April dan Idul Adha jatuh pada 18 April 1997.
Untuk melihat kondisi yang lebih global, sebab perbedaan itu bisa kita lihat pada garis tanggal awal Dzulhijjah. Garis tanggal itu menyatakan daerah yang saat terbenam matahari dan bulan bersamaan. Di sebelah barat garis itu pada tanggal 7 April bulan sudah wujud di atas ufuk pada saat maghrib. Sedangkan di sebelah timurnya bulan sudah berada di bawah ufuk pada saat maghrib. Garis tanggal itu melalui pantai barat Australia, pantai barat Sumatra, India, Kazakhstan, dan Rusia bagian barat. Dengan demikian garis tanggal itu memisahkan Arab Saudi dengan Indonesia.
Bila kita gambarkan peta berdasarkan garis tanggal qamariyah (lunar date line) kita akan jelas melihat bahwa perbedaan hari Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi hanya semu belaka (lihat gambar). Perbedaan itu hanya disebabkan oleh definisi tanggal syamsiah (solar calendar) yang dipisahkan oleh garis tanggal internasional yang melalui lautan pasifik.
Karena adanya garis tanggal internasional, wilayah di sebelah timur garis itu tanggalnya lebih muda daripada yang di sebelah baratnya. Idul Adha 10 Dzulhijjah di wilayah Asia Timur jatuh pada 18 April sedangkan di Amerika, Eropa, Afrika, dan Timur Tengah jatuh pada 17 April.
Pengaruh definisi garis tanggal internasional yang menyebabkan kejadian yang sama dinyatakan dengan tanggal yang berbeda sebenarnya bukan hal yang aneh. Contoh lain yang terkenal adalah catatan sejarah penyerahan Jepang kepada tentara sekutu. Kejadiannya sama, tetapi buku-buku sejarah di Asia, termasuk di Indonesia, menyebutkan tanggal 15 Agustus 1945. Sedangkan di Amerika Serikat menyebutnya penyerahan itu terjadi pada 14 Agustus 1945. Ini analog dengan perbedaan Idul Adha tersebut.
Jadi, "perbedaan" hari Idul Adha itu sebenarnya tidak berbeda secara hakiki bila dilihat menurut kalender qamariyah dengan garis tanggal qamariyah juga. Merancukan waktu ibadah yang dinyatakan menurut kalender qamariyah dengan tanggal menurut kalender syamsiah bisa menyebabkan timbul kesan seolah-olah ada perbedaan.
Menyamakan dengan Saudi?
Menghadapi kasus "perbedaan" seperti itu sering timbul pertanyaan mengapa tidak diseragamkan saja hari raya itu. Orang yang berpendapat seperti itu menghendaki bila di Arab Saudi Idul Adha tanggal 17 April mengapa di Indonesia dan belahan dunia lainnya tidak mengikutinya saja. Dengan kata lain, waktu Mekkah dijadikan sebagai acuan.
Alasannya sederhana atau disederhanakan. Bukankah Mekah tempatnya Ka'bah, kiblatnya umat Islam sedunia. Sudah sewajarnya penentuan waktu ibadah pun (seperti hari raya) mengiblat juga ke Mekah. Di sisi lain, perbedaan waktu antara Arab Saudi dan Indonesia bagian barat hanya empat jam, semestinya hari rayanya pun bisa dilaksanakan pada hari yang sama.
Sepintas pendapat itu tampak benar dan sederhana. Tetapi bila dikaji lebih mendalam hal itu tidak mempunyai landasan syar'i dan landasan ilmiahnya. Pendapat seperti itu muncul karena menghendaki keseragaman menurut tanggal syamsiah, tetapi mengabaikan tanggal qamariyah. Padahal waktu ibadah dalam Islam ditentukan menurut kalender qamariyah. Menyeragamkan Idul Adha, dalam kasus tahun ini, menjadi tanggal 17 April berarti memaksakan pelaksanaannya di Indonesia menjadi tanggal 9 Dzulhijjah, bukan 10 Dzulhijjah seperti disyariatkan.
Bagaimana dengan puasa hari Arafah? Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada hari Arafah itu disunahkan berpuasa. Menurut hadits Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Qatadah r.a., puasa hari Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun yang berlalu dan tahun mendatang. Oleh karenanya puasa hari Arafah ini tergolong puasa sunah yang muakad (utama) sehingga banyak orang yang melaksanakannya.
Hari Arafah adalah 9 Dzulhijjah. Di Indonesia, 9 Dzulhijjah jatuh pada 17 April. Tetapi orang akan bimbang bila berpuasa pada 17 April karena hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha. Menurut Nabi SAW, berpuasa pada hari raya haram hukumnya. Kalau begitu, ada yang berpendapat berpuasalah pada tanggal 16 April karena itulah hari pelaksanaan wukuf di Arafah.
Sepintas pendapat itu nampaknya benar. Kalau dikaji lebih mendalam sebenarnya pendapat itu pun keliru. Bila alasannya hanya karena beda waktu yang pendek (hanya empat jam antara waktu Arab Saudi dan WIB) untuk menyamakan harinya, hal itu pun rancu.
Apakah definisi "sama" harinya? Pengertian "sama" sangat relatif. Secara astronomi bisa berarti mengalami waktu siang secara bersamaan, dengan kata lain bila beda waktunya kurang dari 12 jam. Bila itu diterapkan dalam kasus di Hawaii yang beda waktunya dengan dengan Arab Saudi (dihitung ke arah timur) hanya 11 jam, definisi "sama" harinya malah berbeda tanggal. Tanggal 16 April di Arab Saudi berarti tanggal 15 April di Hawaii.
Lagi pula, pola pikir untuk menyamakan puasa hari Arafah di Indonesia sama dengan hari wukuf 16 April hanya terjadi bila kita tunduk pada sistem kalender syamsiah dan mengabaikan sistem kalender qamariyah yang disyariatkan.
Pada tanggal 16 April di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijjah, jadi bukan waktunya untuk melaksanakan puasa hari Arafah. Kalau begitu, waktu yang tepat untuk melaksanakan puasa hari Arafah di Indonesia adalah 17 April agar tidak melanggar syariat. Dan secara ilmiah hal itu pun beralasan.
Hal itu dapat dijelaskan dengan meruntut perjalanan waktu berdasarkan peredaran bumi. Bagi Muslim di Timur Tengah puasa Arafah mulai sejak fajar 16 April. Makin ke barat waktu fajar bergeser. Di Eropa Barat waktu fajar awal puasa kira-kira 3 jam sesudah di Arab Saudi. Makin ke barat lagi, di pantai barat Amerika Serikat waktu fajar awal puasa Arafah makin bergeser lagi, 11 jam setelah Arab Saudi. Di Hawaii, puasa Arafah juga masih 16 April, tetapi fajar awal puasanya sekitar 13 jam setelah Arab Saudi.
Bila diteruskan ke barat, di tengah lautan Pasifik ada garis tanggal internasional. Mau tidak mau sebutan 16 April harus diganti menjadi 17 April walaupun hanya berbeda beberapa jam dengan Hawaii. Awal puasa Arafah di Indonesia pun yang dilakukan sekitar 7 jam setelah fajar di Hawaii, dilakukan dengan sebutan tanggal yang berbeda hanya gara-gara melewati garis tanggal internasional. Di Indonesia puasa Arafah yang dilakukan pada 17 April 1997 berarti tetap tanggal 9 Dzulhijjah, sama dengan tanggal qamariyah di Arab Saudi.
Semoga tulisan tadi dapat membuka pikiran kita tentang adanya perbedaan dalam penentuan hari raya Islam, yang sampai saat ini di kalangan umat masih dijadikan sebagai sebuah dasar untuk menghukumi sebagian ormas islam di Indonesia sebagai biang keladi pemecah umat. Perbedaan bukan sebagai sebuah penghalang jalinan ikatan silaturrahim,melainkan sebagai sebuah pemanis dalam hubungan antar sesama umat manusia.
Diposting oleh
masmuh
di
17.18
1 komentar
Label: ilmiah
12 Desember 2007
UJUNG GENTENG, Sebuah Perjalanan......( part 1 )
Puas!!!! Puas !!! Puas !!!! ( tapi bukan puas-nya tukul lho ).Ya, itulah ekspresi yang keluar ketika sudah sampai di Ujung Genteng. Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan dari Jakarta,mendaki bukit lewati lembah ( kayak ninja hatori aja ) akhirnya sampai juga ke tempat tujuan. Disambut hangatnya mentari sore,udara pantai yang khas,dan lambaian nyiur kelapa,kami ber-8 menginjakkan di bumi Ujung Genteng, di pesisir selatan kabupaten Sukabumi.
Motivasi utama datang ke Ujung genteng ( UG ) adalah untuk melepas penat,stress,dan rasa bosan akan suasana Jakarta. Ya, tahu sendirilah kondisi "kota tercinta " itu. Akhirnya,diputuskan pada Sabtu 8 Desember 2007 pergi ke UG. Dari Jakarta berangkat sekitar jam 9 pagi naik mobil,dengan formasi Widi ( driver tunggal ),Hardy ( sebelahnya driver ),suliswanto,Ashari,David Dabo,Mukti,Vico,dan saya sendiri. Perjalanannya sendiri sangat "menakjubkan",terutama setelah masuk ke daerah kabupaten sukabumi. Jalan yang berkelak-kelok,tipikal daerah perbukitan,merupakan sensasi tersendiri. Untungnya drivernya sangat handal karena membawa mobil sejak tahun 80an ( kata dia ).( tengkyu wid,kamu memang teman yang bisa diandalkan dalam urusan per-driver-an).Walaupun jalanan kecil,hanya cukup untuk dua mobil,laju mobil tetap kencang,dan sering bermanuver demi mendahului kendaraan yang ada di depannya.
Di tengah perjalanan, dan karena sudah waktunya makan siang, kami memutuskan untuk makan siang di Pelabuhan Ratu. Pelabuhan Ratu sebenarnya juga termasuk salah satu wisata andalan Sukabumi,selain sebagai pusat pemerintahan. Kami makan siang di salah satu rumah makan yang langsung menghadap ke laut lepas, sangat menakjubkan.
Setelah kenyang,kami balik arah menuju ke UG, melewati Kecamatan Simpenan. Jurang terhampar di pinggir jalan, agak deg-degan juga ketika melewati tikungan dan ketika mencoba mendahului, jalannya sempit bok.Tapi sekali lagi,drivernya bisa diandalkan.Sebenarnya kita juga melewati air terjun,dan terlihat dengan jelas berada di sisi jalan. Pengennya berhenti sejenak,minimal mengambil gambarnya. Namun karena kondisi jalan tidak memungkinkan,terpaksa kita hanya melewatinya. Ketika sudah melewati Surade, rasa tidak sabar semakin kuat. Apalagi ketika melihat papan penunjuk jalan tertulis, UJUNG GENTENG 12 KM,,. !!. Pucuk dicinta ulam tiba, ketika dari kejauhan sudah terlihat birunya air laut terhampar,perasaan makin tidak karuan pengen segera merasakan sejuknya air laut. Kami kemudian melewati pos masuk,sebenarnya harus bayar. Sempat memperlambat mobil,kemudian digas lagi. Artinya kami tidak membayar ketika masuk kawasan wisata UG.( Maafkan kami pak,kami janji lain kali kalau ke sana lagi akan membayar tiket masuk, sumpah dech )
And finally,sampailah kita di penginapan yang letaknya persis di pinggir pantai. Kami menyewa satu ruang yang terdiri dari 2 kamar,empat tempat tidur,satu kamar mandi,semacam ruang tamu,tempat masak,dan teras. Karena kami ber-8,ditambah lagi 4 ekstra bed. Harganya cukup murah,250 ribu rupiah,belum termasuk makannya. Setelah urusan sewa menyewa beres,kami langsung ganti pakaian dan menceburkan badan di pantai,kebetulan kondisinya pas pasang. Kalau biasanya ombak pantai selatan terkenal dengan kehebatannya,ombak di pantai tempat kami mandi tidak terlalu tinggi,hampir tidak ada malah. Sebab daerah tersebut banyak terumbu karang sehingga ombak yang datang sebelum sampai ke pantai sudah dipecah. Dan perlu dicatat,kondisi pantainya sangat bening. Kita bisa melihat dengan jelas pemandangan di bawah air dengan jelas. Sebetulnya lebih pas lagi kalau kita memakai alat buat snorkling,tapi karena tidak ada yang bawa ( lebih tepatnya tidak ada yang punya ) dan tidak tahu harus menyewa ke mana, kita mengandalkan mata telanjang untuk melihatnya. Kondisi pantai juga juga tidak ramai dan terkesan sangat sepi dari pengunjung. Hal ini dimungkinkan karena memang masih sangat sedikit orang yang tahu dan kurangnya promosi dari pemerintah setempat.
Setelah puas mandi,kami mandi di "hotel". Lalu saya dan empat orang lagi pergi ke pasar ikan'letaknya kira-kira lima menit jalan pake mobil dari penginapan. Kami membeli ikan bawal dan lobster untuk lauk makan malam.Harganya harga pabrik,karena langsung dari laut.Kita lalu menyerahkan ke yang punya penginapan untuk dimasak. Lumayan lama juga sih nunggunya,bawalnya dibakar dan lobsternya direbus.Dan, maknyuss,nikmatnya makan malam akhirnya bisa kami rasakan.
Di UG ada tempat penangkaran penyu juga ternyata. Setelah makan malam, saya,widi,sulis, david dabo,dan ashari dengan naik ojek pergi ke tempat penyu tadi. Katanya kita bisa melihat penyu yang sedang bertelur. Jalan ke tempat penyu sangat ekstrem,sangat licin dan gelap,penerangan mengandalkan lampu motor. Mungkin karena habis hujan,ditambah bukan jalan aspal alias masih tanah,jadinya y gitu dech. Kita sampai juga ke tempat penyu. Kami membayar 6 ribu rupiah,seandainya yang ikut lebih dari 5 orang kita cukup membayar 5 ribu. Lalu dengan didampingi seorang guide,kami menuju ke tempat penyu bertelur. Sayup-sayup terdengar deburan ombak. Sayangnya pas ke sampai,penyunya sudah selesai bertelur. Tp ga papa, kami masih sempat melihat seekor penyu sedang berusaha menutupi badannya dengan pasir pantai yang lembut.
Ternyata di sana sudah banyak orang yang punya tujuan sama seperti kami,ingin melihat penyu. Kalau mau menunggu, kata orang di penangkaran,kita bisa melihat penyu sedang naik ke pantai untuk bertelur. Tapi tidak ada kepastian berapa menit atau berapa jam. Seandainya kondisinya siang,pasti asyik melihat gempuran ombak menggelegar. Berhubung malam hari dan gelap, hanya mengandalkan cahaya Hp,hanya bisa mendengar suaranya. Lalu setelah merasa cukup dan foto-foto sebentar, kami kembali ke penginapan. Jarak tempuhnya sekitar 20 menit,dan untuk menikmati perjalanan malam tadi,kami mengeluarkan biaya 40 ribu rupiah per kepala,termasuk untuk biaya masuk.
Sampai di penginapan,ada yang main kartu ada yang tiduran. Lalu tengah malam,kami berjalan-jalan di tepi pantai,meikmati suasana pantai di malam hari. Ternyata airnya surut,dibandingkan kondisi pada sore harinya. Ada beberapa nelayan dengan menggunakan lampu petromaks dan alat penangkap ikan,mencari ikan di sela-sela karang. Ditambah cuaca waktu itu sangat cerah. Sungguh merupakan pengalaman yang berharga. Setelah cukup kami kembali dan tidur.
Diposting oleh
masmuh
di
15.51
0
komentar
Label: Adventure
06 Desember 2007
Lihat, Lawan,Laporkan
Semalam, Komisi III DPR RI telah memilih anggota KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ) yang baru,untuk periode kepengurusan 2007-2011. Dan memilih Antasari Azhar sebagai ketua KPK,menggantikan Taufikurrahman Ruki. Ada Pro dan kontra dalam seleksi anggota KPK yang baru tersebut.
Sebagai badan yang mempunyai kewengan penuh dalam pemberantasan korupsi di Indonesia,diharapkan orang-orang yang duduk di dalamnya benar-benar orang yang "bersih " dari korupsi dan mempunyai track record yang bagus. Muncul kontroversi dari nama-nama yang muncul dalam hasil seleksi sampai akhirnya masuk ke DPR RI untuk dilakukan fit and proper test. Dalam Today's Dialogue di Metro TV, tadi malam,Ketua KPK Taufikurrahman Ruki mengatakan bahwa sejarah yang akan membuktikan apakah pilihan anggota komisi III DPR RI itu tepat atau tidak. Mengingat terpilihnya Antasari Azhar sebagai ketua KPK agak kontroversial. Sebab banyak laporan dari masyarakat tentang track record dan jejak rekamnya selama ia berkarir di Kejaksaan Agung. Sebenarnya beliau juga agak menyesalkan kenapa orang-orang mantan anggota KPK tidak ada yang terpilih lagi. Karena di KPK,dibutuhkan orang-orang yang berpengalaman dan mempunyai kemampuan dalam bidang penyidikan dan penuntutan,sesuai dengan apa yang tertulis dalam undang undang tentang KPK.
Lepas dari kontroversial yang ada, kita harus tetap memberikan apresiasi yang tinggi terhadap KPK,sebagai ujung tombak pembarantasan korupsi di negeri ini. Kita semua ingin kalau negeri ini bebas dari klaim sebagai surga para koruptor. Kita tunggu saja kerja anggota KPK yang baru,dengan segala tantangan yang ada. Sekali lagi mengutip kata Pak Ruki, Sejarah yang akan membuktikan. Kalau mereka melenceng dari tugas dan fungsinya,atau tidak mempunyai taji dalam upaya pemberantasan korupsi. leboh baik mereka turun dari gelanggang.
Korupsi, LIHAT , LAWAN , LAPORKAN !!!!!
Diposting oleh
masmuh
di
12.09
0
komentar
Hujan,Antara Berkah dan Musibah
Hujan tampaknya akan mulai mengakrabi jakarta. Sejak beberapa hari terakhir perasaan hujan terus mengguyur bumi ibu kota negara ini. Apakah berkah atau musibah ? Tergantung siapa yang mengatakannya. Kalau hujan turun di desa saya,pasti itu adalah berkah. Karena inilah yang ditunggu-tunggu para petani di sana ,termasuk bapak saya.
Tapi ada pula yang tidak suka dengan kedatangannya,misalnya saja di Jakarta. Kalau ada survey tentang pilih mana antara hujan dan tidak,mungkin banyak yang milih tidak. Tapi kita kan tidak boleh menolak rejeki dari Tuhan. Sebab tidak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu itu sia-sia. Perkara dengan hujan menyebabkan banjir di Jakarta,itu kan karena salah orang-orangnya ( atau oknum kali ya..). Kita sendiri yang membuat banjir itu terjadi. Air kan juga butuh jalan untuk mengalir ke laut,meresap ke tanah sebagai sumber mata air. Sekarang kalau jalan ke laut tersendat dan tempat resapan air sedikit,ya mau tidak mau,suka tidak suka,kita harus menerima banjir menyapa kita. Ada pameo,jakarta itu kurang afdhol menjadi kota metropolitan kalau belum ada banjir. Tapi apakah pameo tersebut tidak bisa diubah ? PASTI BISA !!! asal ada kemauan dan kesadaran dari semua pihak tentunya. Atau kita akan tetap menjadi pelanggan setia banjir ? Kalau mau ya pola hidup sekarang tetap saja dipertahankan.
Yach,sepertinya musim penghujan kali ini,kita akan tetap deg-degan,menunggu tamu rutin datang. Persiapkan cadangan makanan secukupnya,perahu karet kalau diperlukan ( sebagai moda transportasi utama ),tempat penimbunan barang biar tidak rusak terkena air de el el ( sesuaikan dengan kondisi ekonomi anda ). Dan sembari doa tokek, banjir....tidak....banjir....tidak....banjir....tidak... OK !!!!
Itulah paradoksitas kehidupan,ada dua sisi yang saling berlawanan, suka atau tidak suka,tergantung dari mana kita melihatnya. Setiap sesuatu ada gunanya, kalau tidak bagi kita,mungkin bagi orang lain. Botol air mineral bekas bagi kita mungkin sudah menjadi sampah,tidak ada gunanya. Tapi bagi para pemulung,itu adalah surga. Sebab dari benda tersebut mereka bisa mendapatkan uang. Hujan, ada yang menganggap sebagai musibah,karena menjadi biang keladi banjir,bagi orang lain adalah berkah yang tiada terkira. Ya, itulah hidup...selalu ada yang berbeda tetapi saling terkait.
Berkah atau musibah ? tanyakan pada diri kita masing-masing. Selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa yang terjadi....
Diposting oleh
masmuh
di
10.33
0
komentar
Label: renungan







<
Loading...
